Breaking News:

DEMO HONG KONG

Demo Hong Kong yang Radikal Menyebar ke Sekolah, Guru-guru Paling Terjepit dan Galau

Sejak sekolah dimulai, lebih dari 50.000 guru sekolah dasar dan menengah mendapat tekanan dari pihak berwenang, siswa, orangtua dan media

South China Morning Post
Para siswa di sekolah melakukan aksi rantai manusia dengan kampanye "stand with Hong Kong" dalam putaran demonstrasi anti-pemerintah 

Seorang guru studi liberal selama lebih dari 10 tahun mengatakan, sulit bagi guru untuk menangani pertanyaan seperti itu.

“Kita harus sangat berhati-hati,” katanya seperti dilansir  TribunBatam.id dari South China Morning Post, "Mengekspresikan pendapat politik pribadi kita di sekolah tidak pantas karena siswa dapat mencurigai guru mereka secara membabi buta."

Alih-alih berbagi pandangannya, kata Kwan, ia mendorong siswa-siswanya untuk mencari tahu lebih banyak tentang kerusuhan sosial dengan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber.

Sejak sekolah dimulai bulan lalu, lebih dari 50.000 guru sekolah dasar dan menengah di kota itu telah mendapat tekanan dari pihak berwenang, siswa dan orangtua.

Mereka juga mendapat kritik dari media China daratan karena gagal mengendalikan siswa yang ikut serta dalam protes.

Jumlah siswa yang ditangkap polisi melonjak tajam.

Biro Pendidikan telah menerima 58 keluhan antara pertengahan Juni dan pertengahan September tentang perilaku guru sehubungan dengan kerusuhan sosial. Dua kasus dibuktikan, lima tidak, dan sisanya sedang diselidiki, kata biro.

Para siswa telah bergabung dengan gerakan anti-pemerintah sejak tahun ajaran baru, mulai dengan mogok belajar atau boikot kelas, mengadakan aksi duduk, membentuk rantai manusia dan ikut serta dalam protes jalanan.

Di sekolah menengah elit Shatin Tsung Tsin, Selasa lalu, lebih dari 100 dari 900 siswa berbaris di sekitar lapangan basket dan menyanyikan "Glory to Hong Kong", lagu de facto gerakan protes. Beberapa mereka mengibarkan bendera Amerika.

Tindakan mereka langsung mendapat kecaman online dari para loyalis Beijing yang menuduh para siswa mempropagandakan kemerdekaan untuk Hong Kong dan mengkritik para guru, menyebut mereka biang keladi di balik membawa politik ke sekolah.

Sekolah meminta maaf karena tidak segera melakukan intervensi, membela murid-muridnya dan berjanji bahwa para guru akan mencegah siswa untuk mengambil bagian dalam tindakan yang melanggar hukum dan kekerasan.

Halaman
1234
Penulis: Alfian Zainal
Editor: Alfian Zainal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved