Breaking News:

VIRUS CORONA DI LINGGA

Data Pengadilan Agama, 186 Rumah Tangga di Lingga Bubar, Dampak Pandemi Covid-19

Pengadilan Agama mencatat, ada 192 perkara gugatan dan 80 permohonan cerai selama 2020. Dari jumlah itu, 186 rumah tangga di Lingga bubar.

Penulis: Febriyuanda | Editor: Septyan Mulia Rohman
TribunBatam.id/Istimewa
Ketua Pengadilan Agama Dabo Singkep Yudi Hardeos mencatat 186 rumah tangga di Lingga bubar selama 2020. Beberapa kasus perceraian disebabkan akibat pandemi Covid-19. 

Melalui Sanggar Seni Diram Perkase, Desa Sungai Buluh memanfaatkan momen perkawinan tersebut dengan cara melestarikan adat istiadat nikah kawin.

Pelestarian tersebut dengan dilakukannya Budaya tari inai dan tepuk tepung tawar pada malam bertepuk dan juga silat pengantin pada acara khataman Quran pada paginya. Berikut tahapannya:

1. Tari Inai

Tari inai merupakan serangkaian acara yang dilaksanakan pada malam bertepuk, yang biasanya dilakukan seusai acara akad nikah/ijab kabul.

Tari inai sendiripun telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada 2017.

Tari inai biasanya dilangsungkan pada malam hari, atau keesokan harinya jika teri inai tidak dilakukan pada malamnya.

Tari inai pada acara malam bertepuk dari Sanggar Seni Diram Perkase, Desa Sungai Buluh, Kecamatan Singkep Barat, Kabupaten Lingga
Tari inai pada acara malam bertepuk dari Sanggar Seni Diram Perkase, Desa Sungai Buluh, Kecamatan Singkep Barat, Kabupaten Lingga (TribunBatam.id/Istimewa)

Namun, seiring berjalannya waktu tari inai hanya dilakukan pada malam saja.

Bagi masyarakat Melayu Kabupaten Lingga, tari Inai bukan hanya hiburan bagi pasangan pengantin, namun merupakan tradisi secara turun temurun, dan acara khusus yang harus dilaksanakan dalam rangkaian Berinai Besar dan Tepung Tawar.

Tari inai sendiri diiringi dengan dua buah gendang dan gong, dan bisa ditambahkan serunai sebagai pembawa melodi. Untuk penarinya sendiri memakai pakai melayu lengkap, dengan properti lilin yang dibalut dengan inai.

Untuk Tari Inai dari Sanggar Seni Diram Perkase sendiri, dilatih langsung oleh Zainudin (61), yang kerap disapa Pak Long Awang sekira sejak 2007, sebelum Sanggar Seni Diram Perkase sendiri terbentuk.

Selain melatih tari inai, Awang juga melatih cara memukul gendang dan juga melatih silat pengantin, terkhususnya pada anak-anak.

Awang menilai bahwa untuk tari inai sendiri lebih bagus dilakukan oleh anak-anak, karena akan membuat acara tepuk tepung tawar lebih meriah.

Tari inai pada acara malam bertepuk dari Sanggar Seni Diram Perkase, Desa Sungai Buluh, Kecamatan Singkep Barat, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri.
Tari inai pada acara malam bertepuk dari Sanggar Seni Diram Perkase, Desa Sungai Buluh, Kecamatan Singkep Barat, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri. (TribunBatam.id/Istimewa)

"Dulu kami para orangtua yang nari, sekarang kalian sebagai penerus," kata Awang.

Dari pantauan TribunBatam.id sekira pukul 21.00, Sabtu (19/12/20), acara tari inai tersebut dilakukan oleh lima orang anak didik Sanggar Seni Diram Perkase, yang terdiri dari tiga laki-laki dan dua perempuan.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Batam
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved