Minggu, 10 Mei 2026

BERITA SINGAPURA

Singapura Ikuti Sikap Amerika Serikat dan Inggris Soal Ketegangan di Ukraina

Singapura mengikuti jejak Amerika Serikat, Inggris dan 17 negara lainnya terkait situasi yang terjadi di Ukraina.

Tayang:
Kolase TribunBatam.id
Singapura meminta warganya untuk sesegera mungkin keluar dari Ukraina. Langkah ini lebih dulu diambil Amerika Serikat dan Inggris serta 17 negara lainnya. Kolase tentara Rusia Vs Ukraina (Ilustrasi) 

SINGAPURA, TRIBUNBATAM.id - Situasi yang terjadi di Ukraina membuat pemerintah Singapura bersikap.

Melalui Kementerian Luar Negeri atau Ministry of Foreign Affairs (MFA), pemerintah Negeri Singa itu mengikuti langkah Amerika Serikat (AS) dan Inggris untuk meminta warganya keluar sesegera mungkin dari negara Eropa Timur itu.

Selain Amerika Serikat dan Inggris, setidaknya ada 17 negara lain yang lebih dulu meminta warganya 'minggat' dari Ukraina guna menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

Rusia sebelumnya dilaporkan mengerahkan sekitar 100.000 tentara di dekat perbatasannya dengan Ukraina.

Kondisi ini menambah ketegangan antara dua negara bertetangga tersebut, serta meningkatkan ancaman invasi.

Baca juga: China - Rusia Makin Mesra, Serang Balik NATO Pimpinan Amerika Serikat Ihwal Ukraina

Baca juga: Ini Syarat Turis Singapura Bisa Bepergian ke Batam Lewat Skema Travel Bubble dari Imigrasi

Vladimir Putin sedang berusaha menyusun ulang batas-batas Eropa pasca-Perang Dingin, membangun zona keamanan yang luas, dan menarik kembali Ukraina, dengan paksa jika perlu.

Ketegangan antara Ukraina dan Rusia sudah membara sejak 2013, ketika Ukraina berupaya menggulingkan presidennya yang pro-Rusia, Viktor Yanukovych, dan militer Rusia memasuki wilayah Ukraina.

Imbas dari kondisi tersebut, Rusia mencaplok semenanjung Crimea yang otonom pada 2014 dan mengobarkan pemberontakan separatis di Ukraina timur.

Rusia berdalih, aneksasi Crimea adalah untuk membela kepentingan warga berbahasa Rusia di sana.

Akan tetapi, pencaplokan itu tidak diakui oleh sebagian besar negara.

Tak lama kemudian, separatis pro-Rusia di wilayah Donetsk dan Luhansk di Ukraina mendeklarasikan kemerdekaan dari Kiev.

Sehingga memicu pertempuran yang sengit selama berbulan-bulan. Gencatan senjata sempat disepakati pada 2015 tetapi sulit ditegakkan.

Perdamaian total tak kunjung didapat di tengah perang Rusia Ukraina yang menewaskan lebih dari 13.000 tentara dan warga sipil.

Baca juga: Kapal Pertama Singapura-Nongsa Batam 18 Februari, Ansar Ahmad: Alhamdulillah, Perjuangan Berhasil

Baca juga: Singapura-Batam Tempuh Jalan Berbeda! Senin 12 Juli Batam PPKM Darurat Negeri Singa Memulai Normal

Menurut Putin, Ukraina pada dasarnya adalah bagian dari Rusia baik secara budaya maupun historis.

Ia mengklaim langkah yang diambilnya ini dapat meningkatkan kekuatan negaranya untuk bersaing dengan AS dan China.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved