Jumat, 24 April 2026

Cara Mengatasi Duck Syndrome, Kenali Jenis, Penyebab, dan Faktor Risikonya

Mengenal istilah duck syndrome sebagai salah satu kondisi psikologi, ketahui jenis, penyebab, faktor risiko, dan cara mengatasinya berikut.

Canva
Ilustrasi - Mengenal istilah duck syndrome sebagai salah satu kondisi psikologi, ketahui jenis, penyebab, faktor risiko, dan cara mengatasinya berikut. 

Orang tua dengan jenis pola asuh ini cenderung berlebihan saat melindungi dan mengatur anaknya.

Pola asuh helikopter ini dapat berdampak buruk terhadap perkembangan emosional anak tersebut.

Salah satu penyebabnya adalah sindrom ini yang membuat seseorang menjadi sulit untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dan memanipulasi diri demi orang lain.

Selain itu juga dapat berdampak bagi anak menjadi tidak mampu mengendalikan emosinya dengan baik.

Akhirnya membuat anak tersebut berpura-pura untuk tetap tenang dan tampak baik-baik saja.

4. Pengaruh media sosial

Media sosial justru dapat memperburuk kondisi mental seseorang, termasuk menjadi penyebab sindrom ini.

Misalnya seseorang yang terbuai dengan ide bahwa kehidupan orang lain lebih sempurna dan bahagia ketika melihat unggahan dari orang tersebut, akhirnya membuat seseorang tidak menjadi jati dirinya sendiri dan hanya memperlihatkan sisi baiknya saja di media sosial.

Baca juga: Ketahui 3 Gejala Mengalami Delusional yang Berpotensi Gangguan Jiwa

5. Perfeksionisme

Sifat perfeksionisme menjadi penyebab sindrom ini karena membuat seseorang ingin selalu terlihat bahagia dan baik-baik saja.

Mereka cenderung memberikan standar hidup yang tinggi pada dirinya, sehingga sulit menerima kekurangan atau kegagalan dalam hidupnya.

6. Peristiwa traumatik

Peristiwa traumatik memang memiliki pengaruh besar pada kesehatan mental seseorang, termasuk duck syndrome yang membuat seseorang berupaya menutupi masalah atau bebannya.

Seperti pelecehan verbal, fisik, dan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, atau kematian orang yang dicintai bisa membuat seseorang sangat terpukul atas hidupnya namun terpaksa harus tetap menjalankan hidupnya.

Peristiwa traumatik tersebut menjadi momok dan beban yang disembunyikan oleh seseorang yang menderita duck syndrome sehingga membuat hidupnya semakin berat.

7. Self-esteem yang rendah

Penyebab orang yang memiliki sindrom bebek ini adalah memiliki self-esteem yang rendah sehingga membuatnya sulit memahami dirinya sendiri dan lebih memilih memanipulasi dirinya berdasarkan pandangan orang lain.

Cara mengatasi duck syndrome

Duck syndrome dapat menyebabkan depresi berat atau pikiran untuk bunuh diri.

Oleh karena itu, disarankan agar orang dengan sindrom bebek atau berisiko tinggi mengalami masalah psikologis berkonsultasi dengan dokter atau psikolog mereka.

Jika kamu merasa menderita duck syndrome, cari bantuan dan ikuti tips berikut ini untuk tetap sehat secara mental:

  • Lakukan konseling dengan ahli yang dapat membantu mengenali kecemasan dan masalah mu
  • Kenali kapasitas dirimu agar bisa bekerja sesuai dengan kemampuan dan kapasitas yang kamu punya
  • Belajarlah untuk mencintai diri sendiri dan tidak terlalu memikirkan pandangan orang lain
  • Jalani gaya hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan sehat, rutin berolahraga, serta menghindari rokok dan minuman beralkohol secara berlebihan
  • Jujur pada diri sendiri dengan cara luangkan waktu untuk melakukan me time atau relaksasi untuk mengurangi stres
  • Mengubah pola pikir menjadi lebih positif dan berhenti membandingkan diri dengan orang lain dan lebih fokus dengan diri sendiri
  • Memberi jarak dengan media sosial dan menggunakannya secara bijak untuk diri sendiri

Baca juga: Gejala Gangguan Kecemasan, Waspadai Rasa Khawatir Berlebihan

Faktor risiko duck syndrome

Dikutip dari Medicinenet, faktor risiko duck syndrome ini mencakup banyak aspek, misalnya pengalaman kuliah ketika harus tinggal jauh dari keluarga, peningkatan yang signifikan dalam tuntutan akademik, serta tekanan di lingkungan sosial.

Selain itu, tekanan gelombang media sosial pada orang dewasa muda untuk terlihat mencapai kesempurnaan.

Aspek keluarga juga meningkatkan risiko duck syndrome ini, terutama keluarga yang memiliki kecenderungan untuk menuntut dan sangat kompetitif, menjunjung tinggi kesempurnaan, dan orang tua yang terlalu protektif terhadap anaknya.

Gaya pengasuhan seperti ini biasanya membuat orang tua lebih dominan dalam mengatur kehidupan anak.

Akibatnya, duck syndrome muncul karena tuntutan lingkungan sekitar sehingga memicu depresi dan kecemasan.

(TRIBUNBATAM.id)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ramai soal Duck Syndrome, Terlihat Bahagia padahal Jiwa Teraniaya".

Baca juga Berita TribunBatam.id lainnya di Google News

Sumber: Kompas.com
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved