Gara-Gara Daya Listrik 1300 Watt, Bayi Malang Ini Tak Bisa Dapat BPJS
Lantaran rumah tumpangan yang dihuni orangtuanya berdaya listrik 1300 watt, bayi pengindap kelainan hati ini tak bisa dapat BPJS.
Foto: Ridho
Merujukkan Ridho ke salah satu RS di Jakarta memang menjadi satu pilihan.
Sebab, penyakit diderita bocah ini belum bisa ditangani oleh tim dokter di RSUP Kepri.
Namun, Lia mengaku agak sungkan kalau anaknya harus mendapat perawatan di Jakarta.
Mungkin saja biaya pengobatan itu relatif bisa dijangkau.
Akan tetapi, untuk bisa mulai dirawat, Ridho harus masuk dalam daftar antrean panjang para pasien dengan kasus serupa yang juga masih menunggu waktu pengobatan.
"Berobat di Jakarta, mungkin lebih murah. Tapi anak saya harus mengantre dulu. Sementara kalau tidak dirawat dengan cepat, anak saya bisa menjalani operasi pencangkokan hati. Biayanya tentu lebih mahal," ujar Lia.
"Kata dokter, anak saya bisa dirujuk ke salah satu RS di Malaysia. Di sana, biaya operasi penyumbatan empedu bisa mencapai Rp 87 juta. Sementara kami tidak punya uang sebesar itu. Saya pusing," keluh wanita yang mengaku pernah bekerja di PT Busana itu.
Lia dan Kaferi (38), suaminya yang bekerja sebagai tukang bangunan sudah lama merantau di Tanjungpinang.
Keduanya sudah dikarunia tiga orang anak.
Dua anak terdahulu dilahirkan dalam kondisi normal.
Namun, anak pertamanya sudah dipanggil oleh Allah pada usia yang masih belia.
Lia dan Kaferi bahkan sudah memiliki kartu tanda penduduk (KTP).
Selama ini mereka menumpang pada salah satu rumah orang di Perumahan Mahkota Alam Permai dengan rekening listrik berdaya 1300 watt.
Sebagai warga yang sudah memiliki KTP Tanjungpinang, Lia mendapatkan kemudahan untuk mengurus BPJS atas rekomendasi Dinas Sosial (Dinsos) Tanjungpinang.