Hidup di Batam Tak Mudah Kawan, Perantau Sambung Nyawa Hidup di Tepi Kali

Sejak dulu Batam dikenal sebagai kota industri yang dipercaya banyak orang membutuhkan pekerja dan mudah mencari kerja, tapi benarkah demikian?

dok. ATB
Hidup di Batam Tak Mudah Kawan, Perantau Sambung Nyawa Hidup di Tepi Kali. Foto Sei Jodoh yang menjadi pusat perdagangan awal Kota Batam tahun 70-an 

TRIBUNBATAM.id - Hidup di Batam Tak Mudah Kawan, Perantau Sambung Nyawa Hidup di Tepi Kali.

Sejak dulu Batam dikenal sebagai kota industri yang membutuhkan banyak pekerja dan mudah mencari kerja?

Beranda Indonesia dari Singapura ini menjadi magnet yang mampu menarik orang-orang dari penjuru Indonesia mencari kerja.

Tapi benarkah Batam ramah ke pekerja dan nyaman ke pencari kerja?

Baca juga: Batam-Pinang Masih Berdarah-darah, Angka Pengangguran Bengkak Saat Pandemi, PHK Hantui Pekerja

Baca juga: Kena Hantam Covid-19, Tingkat Pengangguran di Batam Naik

Baca juga: UMK Batam 2021 Diusulkan Naik, Apindo Kepri Bereaksi Keras: Jangan Menambah Pengangguran

Suasana Kota Batam
Suasana Kota Batam (tribunnews batam / istimewa /wordpress)

Setidaknya ada sekira 25 rumah semi permanen terlihat di tepi saluran air yang bermuara ke laut di Sei Jodoh.

Warga memanfaatkan tanah itu untuk membangun setapak rumah miniatur untuk dihuni sementara waktu.

Pada umumnya yang tinggal di pesisir kali berprofesi sebagai pemulung, yang kesehariannya berkeliling mencari barang bekas di sekitar Jodoh, Nagoya, Baloi hingga ke Taman Kota.

Baca juga: RESAHKAN Warga, 2 Ekskavator Untuk Potong Bukit di Marina Sekupang Disegel DLH Batam

Baca juga: Disnaker Batam Siapkan Rp 11 Miliar Latih Para Pencari Kerja

Baca juga: Kerasnya Hidup di Batam, Perantau Tinggal di Tepi Kali Pusat Kota Demi Bertahan Hidup

Seorang penghuni bangunan semi permanen, Yitno mengaku sudah 6 bulan membangun rumah semi permanen.

Selain sebagai tempat beristirahat, bangunan semi permanen itu ia gunakan menyimpan hasil memulungnya.

Pelabuhan Batam Centre menjadi pelabuhan penyeberangan internasional yang berada di pantai utara Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Pelabuhan ini menghubungkan Kota Batam dengan pelabuhan Harbour Front Singapore dan Pelabuhan Setulang Laut serta Pelabuhan Pasir Gudang di Johor Baru, Malaysia. Kapal ferry yang beoperasi setiap jam mulai dari pukul 6.00 hingga 21.00 WIB.
Pelabuhan Batam Centre menjadi pelabuhan penyeberangan internasional yang berada di pantai utara Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Pelabuhan ini menghubungkan Kota Batam dengan pelabuhan Harbour Front Singapore dan Pelabuhan Setulang Laut serta Pelabuhan Pasir Gudang di Johor Baru, Malaysia. Kapal ferry yang beoperasi setiap jam mulai dari pukul 6.00 hingga 21.00 WIB. (Tribunnewsbatam.com/Argianto DA Nugroho)

Pria 34 tahun ini membuat rumah di tepi kali karena menurutnya tidak ada lagi lahan kosong untuk membangun rumah.

"Di kawasan Jodoh tidak ada lahan lagi.

Semuanya sudah dibangun, terpaksa memanfaatkan sejengkal tanah kosong ini untuk membangun," ujarnya kepada TRIBUNBATAM.id, Kamis (21/1/2021).

Apa yang disampaikan Yitno juga diaminkan rekannya yang lain, sebut saja Yatno.

Ia mengaku hanya sementara menempati bangunan semi permanen untuk sekedar bertahan hidup di Batam.

Baca juga: Masa Jabatan Ketua RT/RW 5 Tahun Dinilai Bisa Picu Kisruh, Ini Kata DPRD Batam

Baca juga: PROFIL dan Sejarah Politeknik Negeri Batam, Satu-satunya PTN di Batam Diresmikan SBY

Baca juga: Dekat Kantor Wali Kota & BP Batam, Lampu Lalu Lintas Dekat Dataran Engku Puteri Mati

Pantauan di depan gang masuk terlihat beberapa barang bekas seperti kardus, kaleng serta barang bekas lainnya ditumpuk di menjadi beberapa tumpukan.

Salah seorang warga setempat sedang mengikat dan merapikan kardus miliknya.

Suasana Taman Mini Indonesia di Batam Golden City Bengkong, Kota Batam, Provinsi Kepri, Minggu (27/12/2020).
Suasana Taman Mini Indonesia di Batam Golden City Bengkong, Kota Batam, Provinsi Kepri, Minggu (27/12/2020). (TribunBatam.id/Muhammad Ilham)

Sukses Perantau di Kota Batam

Aismansyah merupakan satu di antaranya sekian banyak perantau yang sukses selama berada di Batam.

Pria berusia 66 tahun asal Pandeglang, Banten ini sudah asam garam mengecap kerasnya hidup.

Sejak 1984, ia memberanikan diri merantau ke Batam.

Baca juga: Di Tengah Cuaca Ekstrim, Perantau Nekat Datangi Batam Naik KM Umsini, Ingin Mengadu Nasib

Baca juga: Kisah Sukses Perantau di Batam Aismansyah, Kuliahkan Dua Anak dari Usaha Warung Makan

Baca juga: Perantau Datang Lagi ke Batam, Tiba di Pelabuhan Batu Ampar, Pilih Kapal Pelni

Sejak umur 7 tahun, bapak tiga anak ini sudah tinggal sebatang kara.

Usaha warung makan dirintisnya sejak 2016, mampu membawa kedua anaknya mengenyam perguruan tinggi.

Kisah Sukses Perantau di Batam Aismansyah, Kuliahkan 2 Anak dari Usaha Warung Makan. Foto Aismansyah perantau asal Pandeglang Banten, Jumat (8/1/2021).
Kisah Sukses Perantau di Batam Aismansyah, Kuliahkan 2 Anak dari Usaha Warung Makan. Foto Aismansyah perantau asal Pandeglang Banten, Jumat (8/1/2021). (TribunBatam.id/Muhammad Ilham)

Ibunya meninggal saat berumur 6 tahun sedangkan ayahnya meninggal saat ia berusia 7 tahun.

Hidup sebatang kara membuat Aismansyah tidak pernah menempuh dunia pendidikan.

Sebelum merantau ke Batam, Aisman sempat bekerja di negeri jiran Malaysia.

Baca juga: Kisah Rahayu Perantau Asal Yogyakarta, Bertahan Hidup Jadi PKL di Batam

Baca juga: Kisah Perantau Cari Kerja di Batam hingga Pilih Balik ke Medan, Mungkin Saya Tak ke Batam Lagi

Baca juga: Lima Berita Populer Batam, Perantau Mulai Tinggalkan Batam, Hingga Predator Anak Beraksi di Batam

Di sana apa pun pekerjaan ia ambil selagi halal.

Sebut saja pekerjaan kasar mulai dari tukang bangunan, petani sawit sampai pekerja di restoran pernah ia lakoni.

"Pokoknya campur sarilah," ujarnya sambil tersenyum saat ditemui, Jumat (8/1/2021).

Kerasnya Hidup di Batam, Perantau Tinggal di Tepi Kali Pusat Kota Demi Bertahan Hidup. Foto bangunan semi permanen di tepi kali di Sei Jodoh, Kota Batam, Provinsi Kepri, Kamis (21/1/2021).
Kerasnya Hidup di Batam, Perantau Tinggal di Tepi Kali Pusat Kota Demi Bertahan Hidup. Foto bangunan semi permanen di tepi kali di Sei Jodoh, Kota Batam, Provinsi Kepri, Kamis (21/1/2021). (TribunBatam.id/Ronnye Lodo Laleng)

Di Batam, ia pernah bekerja di peternakan katak di lahan seluas 43 hektare di Batuaji.

Katak milik bosnya itu akan diekspor ke Hongkong, Taiwan, Amerika dan China.

"Katak itu dijual dagingnya," sebutnya

Sayang, setelah 2 tahun bekerja ia terpaksa berhenti.

Baca juga: Perantau Mulai Tinggalkan Batam, Pilih Balik Habis: Batam Tak Seperti Dulu Lagi

Baca juga: KKSS: Perantau asal Sulawesi Selatan Diimbau Tak Mudik Lebaran

Baca juga: Cerita Haru Perantau Minang di Batam, Terus Berjuang Demi Hidup di Tengah Pandemi Corona

Itu karena perusahaan tempat ia bekerja sudah tak lagi meraup untung dan tak mampu menggaji karyawan.

Aimansyah kini membuka warung makan di Tanjung Pantun Sungai Jodoh, Batam.

Ia mengaku mulai merintis dengan membuka warung sejak tahun 2016 silam.

Omzet yang ia hasilkan dari pekerjaannya saat ini mencapai Rp 1 sampai 1,2 juta per hari.

Batam Magnet Bagi Perantau, Naik KM Umsini, Modal Nekat Pergi saat Cuaca Ekstrem. Foto penumpang KM Umsini Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Kamis, (14/1/2021) sore.
Batam Magnet Bagi Perantau, Naik KM Umsini, Modal Nekat Pergi saat Cuaca Ekstrem. Foto penumpang KM Umsini Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Kamis, (14/1/2021) sore. (TribunBatam.id/Ronnye Lodo Laleng)

Dengan penghasilan itu ia mengaku cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup seorang istri dan tiga anaknya.

Anak pertama Aismansyah kini kuliah di Universitas Internasional Batam (UIB).

Anak keduanya baru mau berangkat kuliah ke Malang.

Sementara anaknya yang bungsu berada di pesantren yang ada di Batuaji.

Baca juga: Populasi Singapura Turun Menjadi 5,69 Juta Akibat Covid-19, Lebih Banyak Perantau Pulang

Baca juga: Dulu Dibangun oleh Perantau India, Inilah Sejarah dan Keunikan Masjid Agung Al Hikmah Tanjungpinang

Ia hanya berharap kepada anak-anaknya agar bisa melebihi dirinya.

"Sang kakak kini sudah semester akhir di UIB, mudah-mudahan dia cepat lulus dan sukses dalam pendidikannya.

Mudah-mudahanlah mereka semua sukses,

dan bisa melebihi saya yang tidak sekolah ini.

Perantau Datang Lagi ke Batam, Tiba di Pelabuhan Batu Ampar, Pilih Kapal Pelni. Foto aktivitas di Pelabuhan Batu Ampar, Kota Batam, Provinsi Kepri, Kamis (7/1/2021).
Perantau Datang Lagi ke Batam, Tiba di Pelabuhan Batu Ampar, Pilih Kapal Pelni. Foto aktivitas di Pelabuhan Batu Ampar, Kota Batam, Provinsi Kepri, Kamis (7/1/2021). (TribunBatam.id/Ronnye Lodo Laleng)

Harapan saya sama adiknya yang di pondok itu, nantinya bisa jadi seorang Kiai," harapnya.

Dengan umur yang sudah tidak muda itu, tampak permukaan kulit wajahnya sudah mengendor dan tidak lagi kencang seperti di masa mudanya.

Baca juga: Nurhasanah Lestari: Jadi Perantau Harus Tahan Banting

Baca juga: Seorang Ibu Nekat Ajak Anak Kandung Hubungan Intim Sedarah, Gelisah Suami Tak Pulang dari Perantauan

Baca juga: Perantau Minang Diminta Tidak Pulang Kampung, Ini Isi Surat dan Penjelasan Gubernur Sumbar

.

.

.

Baca berita menarik TRIBUNBATAM.id lainnya di Google

(TRIBUNBATAM.id/ Muhammad Ilham / Ronnye Lodo Laleng)

Sumber: Tribun Batam
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved