Praktik Licik Barcode BBM Bersubsidi MyPertamina, Solar Beli Rp 6800 Dijual Lagi Rp 8600 per Liter

Kepolisian mengungkap praktik curang penyalahgunaan barcode MyPertamina untuk pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis solar.

|
Editor: Khistian Tauqid
KOMPAS.COM /KIKI SAFITRI
PRAKTIK LICIK BARCODE MYPERTAMINA - Delapan tersangka kasus penyalahgunaan barcode BBM Subsidi. Pihak kepolisian mengungkap praktik curang penyalahgunaan barcode MyPertamina untuk pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis solar. 

TRIBUNBATAM.id - Pihak kepolisian mengungkap praktik curang penyalahgunaan barcode MyPertamina untuk pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis solar.

Hal tersebut terjadi di dua lokasi, Tuban, Jawa Timur, dan Karawang, Jawa Barat.

Total keuntungan dari praktik curang penyalahgunaan barcode MyPertamina tersebut sebesar Rp 4,4 miliar dalam hitungan bulan.

Modus operandi yang dilakukan melalui pembelian BBM subsidi Rp 6.800 per liter dan dijual kembali seharga Rp 8.600 per liter.

Dirtipidter Bareskrim Polri, Brigjen Pol Nunung Syaifuddin, mengonfirmasi praktir tersebut dalam konferensi pers di Bareskrim Polri, Rabu (6/3/2025). 

“Untuk disparitas atau selisih harga, untuk barang bersubsidi atau solar bersubsidi itu harganya Rp 6.800 per liter,” kata Dirtipidter Bareskrim Polri, Brigjen Pol Nunung Syaifuddin, Rabu (6/3/2025). 

“Sementara mereka menjualnya di atas harga subsidi, dengan harga Rp 8.600 per liter,” ujarnya lagi. 

Brigjen Pol Nunung juga menjelaskan bahwa delapan orang diamankan dan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penyalahgunaan BBM subsidi di Tuban dan Karawang.

Menurut Nunung, dari pengakuan sementara tersangka di Tuban, kegiatan curang ini dilakukan selama lima bulan dengan keuntungan sekitar Rp 1,3 miliar. 

“Nah ini nanti akan kita dalami lagi dari barcode yang digunakan, apakah memang lima bulan atau lebih dari itu,” kata Nunung. 

Baca juga: Segini Kerugian Masyarakat atas Kasus Korupsi Pertamina, Imbas Pertamax Oplosan selama 2018-2023

Sementara untuk TKP Krawang, dari pengakuan tersangka yang sudah melakukan kegiatan selama satu tahun, menghasilkan keuntungan senilai Rp 3,07 miliar. 

“Jadi, total dari perkara ini keuntungan yang mereka peroleh lebih kurang Rp 4,4 miliar,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, ada tiga tersangka untuk TKP Tuban, Jawa Timur, yaitu BC, K, dan J. 

Sementara di wilayah Kabupaten Karawang Jawa Barat, ada lima tersangka LA, HB, S, AS, dan E. 

Namun, dua tersangka lain berinisial COM dan CRN saat ini melarikan diri dan masih dalam proses pencarian. 

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved