Jumat, 15 Mei 2026

DEMAM BERDARAH DI NATUNA

Natuna Waspada DBD di Musim Hujan, Dinkes Laporkan 13 Kasus Baru di November 2025

Memasuki musim penghujan, tren kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Natuna, perlu diwaspadai. November lalu, ada 13 kasus baru, Desember belum ada

Tayang:
Penulis: Birri Fikrudin | Editor: Dewi Haryati
TribunBatam.id/Istimewa/Dok.Dinkes
FOGGING DI NATUNA - Tindakan fogging yang dilakukan di titik permukiman warga Natuna yang terpapar Demam Berdarah Dengue (DBD) belum lama ini. 

NATUNA, TRIBUNBATAM.id - Memasuki musim penghujan, tren kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), perlu diwaspadai.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Natuna mencatat 13 kasus DBD baru sepanjang November 2025, yang tersebar di sejumlah kecamatan.

Staf Epidemiolog Kesehatan Pertama, Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinkes Natuna, Wan Widya Rully Ekaputri menyebutkan, peningkatan kasus mulai terlihat sejak tiga bulan terakhir.

“Kasus DBD masih terjadi. Namun untuk Oktober dan November ini menurun dibandingkan September lalu yang mencapai hingga 23 kasus,” ujarnya kepada Tribunbatam.id, Jumat (5/12/2025).

Ia menjelaskan, kasus DBD di bulan November ini tercatat di Ranai, Serasan, Suak Midai, Serasan Timur, dan Subi.

Sementara itu, per awal Desember belum ditemukan kasus baru.

Dari sisi usia, tren pasien DBD juga mengalami perubahan dari bulan ke bulan.

“Untuk bulan November, kasus terbanyak ada pada kelompok usia 16 hingga 20 tahun. Sebelumnya pada September hingga Oktober didominasi anak usia 5 hingga 15 tahun,” katanya.

Lebih lanjut, Dinkes juga mencatat rekapitulasi kasus, total DBD di Natuna sejak Januari hingga November 2025 mencapai 90 kasus.

Jumlah tersebut diketahui meningkat dibanding tahun 2024 lalu, yang berjumlah 81 kasus.

Senada, Kepala Dinkes Natuna, Hikmat Aliansyah mengatakan, seluruh pasien yang tercatat adalah mereka yang telah ditangani di Puskesmas maupun RSUD.

“Pada Februari lalu sempat terjadi lonjakan kasus di Midai hingga ditetapkan status KLB. Lalu pada awal September, kasus kembali naik yang dipicu musim penghujan,” kata Hikmat saat dikonfirmasi.

Ia menegaskan, musim hujan seperti saat ini merupakan kesempatan bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak.

Seluruh kasus yang muncul, kata Hikmat, telah ditindaklanjuti dengan Penyelidikan Epidemiologi (PE), fogging, serta pemberian abate di titik-titik ditemukan kasus.

“Genangan air menjadi tempat ideal untuk nyamuk bertelur. Karena itu masyarakat harus lebih waspada, pastikan lingkungan bersih dan bebas dari sarang nyamuk,” ujarnya.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved