Hidup di Batam Tak Mudah Kawan, Perantau Sambung Nyawa Hidup di Tepi Kali
Sejak dulu Batam dikenal sebagai kota industri yang dipercaya banyak orang membutuhkan pekerja dan mudah mencari kerja, tapi benarkah demikian?
Salah seorang warga setempat sedang mengikat dan merapikan kardus miliknya.

Sukses Perantau di Kota Batam
Aismansyah merupakan satu di antaranya sekian banyak perantau yang sukses selama berada di Batam.
Pria berusia 66 tahun asal Pandeglang, Banten ini sudah asam garam mengecap kerasnya hidup.
Sejak 1984, ia memberanikan diri merantau ke Batam.
Baca juga: Di Tengah Cuaca Ekstrim, Perantau Nekat Datangi Batam Naik KM Umsini, Ingin Mengadu Nasib
Baca juga: Kisah Sukses Perantau di Batam Aismansyah, Kuliahkan Dua Anak dari Usaha Warung Makan
Baca juga: Perantau Datang Lagi ke Batam, Tiba di Pelabuhan Batu Ampar, Pilih Kapal Pelni
Sejak umur 7 tahun, bapak tiga anak ini sudah tinggal sebatang kara.
Usaha warung makan dirintisnya sejak 2016, mampu membawa kedua anaknya mengenyam perguruan tinggi.

Ibunya meninggal saat berumur 6 tahun sedangkan ayahnya meninggal saat ia berusia 7 tahun.
Hidup sebatang kara membuat Aismansyah tidak pernah menempuh dunia pendidikan.
Sebelum merantau ke Batam, Aisman sempat bekerja di negeri jiran Malaysia.
Baca juga: Kisah Rahayu Perantau Asal Yogyakarta, Bertahan Hidup Jadi PKL di Batam
Baca juga: Kisah Perantau Cari Kerja di Batam hingga Pilih Balik ke Medan, Mungkin Saya Tak ke Batam Lagi
Baca juga: Lima Berita Populer Batam, Perantau Mulai Tinggalkan Batam, Hingga Predator Anak Beraksi di Batam
Di sana apa pun pekerjaan ia ambil selagi halal.
Sebut saja pekerjaan kasar mulai dari tukang bangunan, petani sawit sampai pekerja di restoran pernah ia lakoni.
"Pokoknya campur sarilah," ujarnya sambil tersenyum saat ditemui, Jumat (8/1/2021).

Di Batam, ia pernah bekerja di peternakan katak di lahan seluas 43 hektare di Batuaji.
Katak milik bosnya itu akan diekspor ke Hongkong, Taiwan, Amerika dan China.