Hidup di Batam Tak Mudah Kawan, Perantau Sambung Nyawa Hidup di Tepi Kali
Sejak dulu Batam dikenal sebagai kota industri yang dipercaya banyak orang membutuhkan pekerja dan mudah mencari kerja, tapi benarkah demikian?
TRIBUNBATAM.id - Hidup di Batam Tak Mudah Kawan, Perantau Sambung Nyawa Hidup di Tepi Kali.
Sejak dulu Batam dikenal sebagai kota industri yang membutuhkan banyak pekerja dan mudah mencari kerja?
Beranda Indonesia dari Singapura ini menjadi magnet yang mampu menarik orang-orang dari penjuru Indonesia mencari kerja.
Tapi benarkah Batam ramah ke pekerja dan nyaman ke pencari kerja?
Baca juga: Batam-Pinang Masih Berdarah-darah, Angka Pengangguran Bengkak Saat Pandemi, PHK Hantui Pekerja
Baca juga: Kena Hantam Covid-19, Tingkat Pengangguran di Batam Naik
Baca juga: UMK Batam 2021 Diusulkan Naik, Apindo Kepri Bereaksi Keras: Jangan Menambah Pengangguran

Setidaknya ada sekira 25 rumah semi permanen terlihat di tepi saluran air yang bermuara ke laut di Sei Jodoh.
Warga memanfaatkan tanah itu untuk membangun setapak rumah miniatur untuk dihuni sementara waktu.
Pada umumnya yang tinggal di pesisir kali berprofesi sebagai pemulung, yang kesehariannya berkeliling mencari barang bekas di sekitar Jodoh, Nagoya, Baloi hingga ke Taman Kota.
Baca juga: RESAHKAN Warga, 2 Ekskavator Untuk Potong Bukit di Marina Sekupang Disegel DLH Batam
Baca juga: Disnaker Batam Siapkan Rp 11 Miliar Latih Para Pencari Kerja
Baca juga: Kerasnya Hidup di Batam, Perantau Tinggal di Tepi Kali Pusat Kota Demi Bertahan Hidup
Seorang penghuni bangunan semi permanen, Yitno mengaku sudah 6 bulan membangun rumah semi permanen.
Selain sebagai tempat beristirahat, bangunan semi permanen itu ia gunakan menyimpan hasil memulungnya.

Pria 34 tahun ini membuat rumah di tepi kali karena menurutnya tidak ada lagi lahan kosong untuk membangun rumah.
"Di kawasan Jodoh tidak ada lahan lagi.
Semuanya sudah dibangun, terpaksa memanfaatkan sejengkal tanah kosong ini untuk membangun," ujarnya kepada TRIBUNBATAM.id, Kamis (21/1/2021).
Apa yang disampaikan Yitno juga diaminkan rekannya yang lain, sebut saja Yatno.
Ia mengaku hanya sementara menempati bangunan semi permanen untuk sekedar bertahan hidup di Batam.
Baca juga: Masa Jabatan Ketua RT/RW 5 Tahun Dinilai Bisa Picu Kisruh, Ini Kata DPRD Batam
Baca juga: PROFIL dan Sejarah Politeknik Negeri Batam, Satu-satunya PTN di Batam Diresmikan SBY
Baca juga: Dekat Kantor Wali Kota & BP Batam, Lampu Lalu Lintas Dekat Dataran Engku Puteri Mati
Pantauan di depan gang masuk terlihat beberapa barang bekas seperti kardus, kaleng serta barang bekas lainnya ditumpuk di menjadi beberapa tumpukan.