Hidup di Batam Tak Mudah Kawan, Perantau Sambung Nyawa Hidup di Tepi Kali
Sejak dulu Batam dikenal sebagai kota industri yang dipercaya banyak orang membutuhkan pekerja dan mudah mencari kerja, tapi benarkah demikian?
"Katak itu dijual dagingnya," sebutnya
Sayang, setelah 2 tahun bekerja ia terpaksa berhenti.
Baca juga: Perantau Mulai Tinggalkan Batam, Pilih Balik Habis: Batam Tak Seperti Dulu Lagi
Baca juga: KKSS: Perantau asal Sulawesi Selatan Diimbau Tak Mudik Lebaran
Baca juga: Cerita Haru Perantau Minang di Batam, Terus Berjuang Demi Hidup di Tengah Pandemi Corona
Itu karena perusahaan tempat ia bekerja sudah tak lagi meraup untung dan tak mampu menggaji karyawan.
Aimansyah kini membuka warung makan di Tanjung Pantun Sungai Jodoh, Batam.
Ia mengaku mulai merintis dengan membuka warung sejak tahun 2016 silam.
Omzet yang ia hasilkan dari pekerjaannya saat ini mencapai Rp 1 sampai 1,2 juta per hari.

Dengan penghasilan itu ia mengaku cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup seorang istri dan tiga anaknya.
Anak pertama Aismansyah kini kuliah di Universitas Internasional Batam (UIB).
Anak keduanya baru mau berangkat kuliah ke Malang.
Sementara anaknya yang bungsu berada di pesantren yang ada di Batuaji.
Baca juga: Populasi Singapura Turun Menjadi 5,69 Juta Akibat Covid-19, Lebih Banyak Perantau Pulang
Baca juga: Dulu Dibangun oleh Perantau India, Inilah Sejarah dan Keunikan Masjid Agung Al Hikmah Tanjungpinang
Ia hanya berharap kepada anak-anaknya agar bisa melebihi dirinya.
"Sang kakak kini sudah semester akhir di UIB, mudah-mudahan dia cepat lulus dan sukses dalam pendidikannya.
Mudah-mudahanlah mereka semua sukses,
dan bisa melebihi saya yang tidak sekolah ini.

Harapan saya sama adiknya yang di pondok itu, nantinya bisa jadi seorang Kiai," harapnya.