BERITA CHINA
China Disebut Lancarkan Jebakan Utang ke Negara Miskin, Tiongkok Bereaksi Keras!
China menghadapi tuduhan serius dari sejumlah negara barat tentang jebakan utang ke negara miskin. Tiongkok pun bereaksi keras terkait hal itu.
Ada kasus-kasus pinjaman dari China lain yang terbukti kontroversial. Kontrak-kontraknya dapat menguntungkan China dalam hal aset-aset penting.
Namun tidak ada kasus, di antara ratusan perjanjian pinjaman yang diteliti AidData dan sejumlah lembaga lain, yang menunjukkan kreditor China menyita aset besar karena gagal bayar utang.
Penyaluran Utang China
China tidak mempublikasikan data pinjaman untuk luar negeri, dan mayoritas kontraknya mencantumkan klausul-klausul menjaga kerahasiaan informasi yang melarang peminjam membeberkan isi perjanjian.
Baca juga: Awal 2022 Haru di China, Anak Korban Penculikan Bertemu Ibunya Setelah 33 Tahun Terpisah
Baca juga: Data BPS, Wisman Singapura, China, Malaysia dan AS Banyak ke Batam Selama November 2021
Negara tersebut berpegang pada pandangan bahwa menjaga kerahasiaan sudah menjadi praktik umum dalam kontrak-kontrak utang internasional.
"Perjanjian menjaga kerahasiaan ini umum terjadi dalam pemberian pinjaman komersial internasional. Sebagian besar pemberian pinjaman pembangunan dari China ini pada dasarnya adalah operasi komersial," kata Profesor Lee Jones di Queen Mary University, London.
Mayoritas negara-negara industri besar berbagi informasi tentang aktivitas utang mereka melalui keanggotaan kelompok yang disebut Klub Paris.
China memilih tidak menjadi anggota, tapi dengan menggunakan data World Bank, laporan pertumbuhan pesat pemberian pinjaman dari China dibanding kreditor lain dapat diamati.
China cenderung memberikan utang dengan bunga lebih tinggi dibanding pemerintah negara-negara Barat.
Dipatok sekitar 4 persen, bunga itu hampir sama dengan bunga untuk pasar komersial dan sekitar empat kali lebih tinggi dari bunga pinjaman biasa dari World Bank atau negara-negara seperti Perancis atau Jerman.
Periode pembayaran pinjaman dari China biasanya juga lebih pendek - kurang dari 10 tahun.
Sedangkan utang konsensi dari pihak-pihak lain kepada negara-negara berkembang biasanya sekitar 28 tahun.
Pemberi utang badan usaha milik negara China juga biasanya mengharuskan peminjam menyimpan uang tunai dalam jumlah minimum yang ditetapkan di rekening luar negeri yang dapat diakses oleh pemberi utang.
Baca juga: China Terapkan Cara Ekstrem Hukum Pelanggar Protokol Kesehatan Covid-19
Baca juga: China Makin Berani Klaim Laut Natuna Utara, Indonesia Gandeng Amerika Serikat
"Jika pengutang gagal membayar pinjaman. China dapat dengan mudah menarik dana dari rekening itu tanpa harus menagih utang melalui proses hukum," kata Direktur Eksekutif Aid Data, Brad Parks.
Pendekatan ini jarang digunakan oleh pemberi pinjaman dari Barat.
Bank Dunia mengatakan sejak Mei 2020, lebih dari 10,3 miliar dolar AS telah diberikan oleh G20 dalam bentuk keringanan utang berdasarkan skema tersebut.
Ketika diminta memberikan rincian per negara, Bank Dunia mnegaku tidak bisa memberikan informasi yang diminta.
Pada masa sekarang terdapat prakarsa negara-negara G20 - kelompok negara-negara dengan perekonomian terbesar dan pertumbuhan paling cepat- untuk menawarkan keringanan utang kepada negara-negara miskin untuk membantu mengatasi dampak pandemi covid-19.
China telah mengikuti prakarsa itu dan mengatakan pihaknya telah menyumbangkan pembayaran utang terbanyak dari semua negara yang terlibat dalam prakarsa ini.(TribunBatam.id) (Kompas.com/Danur Lambang Pristiandaru/Muhmmad Idris) (Kontan.co.id/Khomarul Hidayat)
Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google
Berita Tentang China
Sumber: Kompas.com, Kontan.co.id